Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Maret 2012

Prinsip-Prinsip Directive Counseling

Penyuluh dari aliran ini tidak menerima anggapan bahwa individu dalam dirinya mempunyai sumber yang diperlukan untuk memecahkan masalahnya sendiri. Penyuluh dari aliran ini pada umumnya berpendapat bahwa:
  1. Banyak murid yang belum cukup matang untuk melakukan diagnosa sendiri untuk sampai kepada pemahaman diri dan membuat rencana sendiri tanpa adanya bantuan dari orang yang lebih tua atau orang yang lebih berpengalaman.
  2. Murid lainnya, meskipun telah diberi petunjuk tentang apa yang harus dilakukan dalam hidupnya tidak mau menerima tanggung jawab untuk membuat keputusan sendiri.
  3. Beberapa masalah terlalu berat untuk dapat dipecahkan oleh murid tanpa adanya bantuan orang lain.
Dalam hal ini, Williamson (33,182) dalam tulisannya yang berjudul 'Directive Versus Non-Directive Counseling' yang dimuat dalam California Journal of Secondary Education mengatakan bahwa:
"Sejarah tentang ilmu pendidikan dan juga tentang therapy menunjukkan bahwa beberapa jenis bantuan langsung dari luar kemampuan insani individu seolah-olah diperlukan untuk mencapai pertumbuhan dari dalam".
Penyuluh aliran ini juga berpendapat bahwa murid tidak boleh diberi kebebasan yang mutlak untuk menentukan pilihan. Murid yang belum mencapai kematangan pribadi tidak akan dapat membuat keputusan yang bijaksana. Apabila seorang murid harus membuat keputusan yang mungkin bertentangan dengan kepentingan masyarakat, sekolah atau teman-temannya; atau bahkan mungkin bertentangan dengan minatnya sendiri, penyuluh berkewajiban untuk membantu, bahkan mengendalikan murid dalam proses pembentukan keputusan. Penyuluh mempunyai kewajiban terhadap masyarakat dan terhadap individu yang dibantunya. Dalam hal ini Williamson (14,7-9) mengemukakan:

"Saya percaya bahwa para penyulih tidak perlu membantu murid untuk mengembangkan setiap aspek individualitas yang dimilikinya secara potensil. Sebagai pendidik kita harus membantu murid untuk menjadi individu yang memiliki sifat-sifat yang sama dengan individualitas, akan tetapi tidak identik. Kita membantu mereka untuk menghindarkan diri dari sifat individualitas yang muncul dalam bentuk pengrusakan diri atau anti-sosial, dan membantu mereka untuk mencapai kebebasan melalui keanggotaan yang penuh dalam kelompok untuk mencapai suatu masyarakat yang terdiri dari individu-individu saling tergantung satu dengan yang lain dan dengan satu idealisme sosial yang tinggi.

Artikel ini merupakan lanjutan dari artikel sebelumnya yang berjudul Penyuluhan Directive - Directive Counseling yang mengulas tentang dasar-dasar penyuluhan directive.

Penyuluhan Directive - Directive Counseling

E.G. Williamson, seorang pejabat Dean of Student di Universitas Minnesota adalah orang yang mempelopori aliran penyuluhan 'directive' atau yang juga dikenal dengan nama 'clinical counseling'. Berikut adalah tulisan-tulisan beliau (bersama Freohlich, Shostrom, dan Brammer) yang kental akan sifat 'directive' dan 'counselor-centered'
Williamson (62,136) "Biasanya penyuluh menyatakan pendapatnya dengan tegas, dengan terang mencoba mencerahkan murid."
Darley (12,169) "Wawancara penyuluhan seolah-olah merupakan situasi jual beli, karena penyuluh berusaha menjual gagasannya mengenai keadaan murid dan rencana yang diinginkannya"
Bingham dan Moore (2) mengemukakan: Tiga fungsi utama dari penyuluhan adalah:
  1. Memberikan informasi 
  2. Memperoleh informasi
  3. Mempengaruhi atau mendorong murid
Akan tetapi kemudian terdapat perubahan-perubahan pendapat diantara para penyuluh dari aliran ini. Misalnya, pada tahun 1946 dalam brosurnya yang berjudul "The Interview in Counseling," Darley (33,180) menyatakan bahwa "Apabila pewawancara mulai memaksakan gagasannya kepada klien, hendaknya diperingatkan kepadanya, bahwa Ia telah berusaha intuk menguasai kliennya".

Kemudian Williamson (14,3) menyatakan pendapatnya:
..... tanggung jawab yang tegas dari seorang penyuluh ialah membantu murid untuk menjadi lebih mendalam dan lebih dewasa dalam memahami nilai-nilai yang dihadapinya dan untuk menentukan dengan jelas nilai-nilai yang disenanginya. Proses pencarian (nilai-nilai) adalah pengalaman pendidikan yang sangat penting, lebih penting daripada pengendalian tingkah laku dan penentuan pilihan terhadap suatu hal, meskipun demikian penyuluhan harus memiliki pegangan pribadi.....
Kita perlu menemukan cara-cara baru untuk menolongnya (murid) agar dapat melanjutkan pencarian nilai-nilai, karena dia tidak akan memahami dirinya sampai dia sanggup membayangkan dengan lebih jelas tentang nilai-nilai secara implisit telah dianutnya sebagai pedoman. Saya tidak dapat membayangkan bagaimana dia dapat mencapai pemahaman diri tanpa adanya keterikatan kepada suatu sistem nilai-nilai yang dapat menentukan tingkah lakunya. Dan hal inilah yang menjadi tujuan kita dalam melaksanakan penyuluhan.....
Dalam bimbingan jabatan kami sebagai penyuluh, sejak lama telah mempergunakan faktor keterikatan terhadap nilai-nilai dan ternyata bahwa murid tidak dapat membuat pilihan yang 'baik' kecuali apabila dia memiliki dasar yang menunjukkan adanya bakat dan minat pada dirinya. Orientasi terhadap nilai-nilai ini sangat membantu penyuluh untuk menolong murid menentukan pilihannya secara memuaskan dan memadai. Saya kemukakan hal ini untuk menggambarkan kenyayaan bahwa kita dapat melaksanakan orientasi terhadap nilai-nilai itu dalam proses penyuluhan tanpa mengabaikan hal murid untuk membuat penentuan sendiri.
Pernyataan-pernyataan mereka yang dikemukakan kemudian seperti halnya pernyataan-pernyataan diatas, tidak lagi mencerminkan sifat 'counselor-centered' dari aliran ini. Hahn dan kendall (33,181) dalam tulisannya yang berjudul "Some Comments in Defence of Non-Directive Counseling" yang dimuat dalam Journal of Consulting Psychology, mengemukakan bahwa dewasa ini tidak ada pendekatan yang sifatnya 'counselor-centered'. Penyuluh profesional dimanapun mereka pernah mendapat pendidikan, cenderung untuk menempatkan kliennya di pusat proses penyuluhan. Hal tersebut tidaklah adil apabila aliran 'clinical counseling' dianggap sebagai pendekatan yang 'directive', meskipun memang benar bahwa penyuluh-penyuluh dari aliran ini mempertahankan adanya unsur-unsur pengendalian dalam penyelenggaraan wawancara dan oleh karena itu aliran ini lebih 'directive' sifatnya daripada aliran 'client-centered counseling'.

Baca kelanjutan artikel pada posting yang berjudul Prinsip-prinsip penyuluhan 'directive'

Senin, 13 Februari 2012

Makna, Ciri-ciri, dan Tujuan Wawancara Penyuluhan

Makna
Wawancara penyuluhan atau counseling interview adalah suatu pertalian antar pribadi kepada pribadi lainnya dimana individu yang satu memiliki masalah dan kebutuhan tertentu terhadap individu lainnya.

Ciri-ciri
Ciri-ciri khusus yang tampak dalam wawancara penyuluhan adalah sebagai berikut:
  1. Sebuah pertalian pribadi dengan pribadi
  2. Seseorang diantara individu yang terlibat didalamnya (pewawancara) menerima atau ditugaskan untuk menerima tanggung jawab untuk menolong individu yang lain.
  3. Orang yang diwawancaraiL (interviewee) mempunyai masalah, kebutuhan, hambatan-hambatan atau frustrasi yang dirobahnya, dilengkapkannya dan dipuaskannya.
  4. Kesejahteraan atau kepentingan orang yang diwawancarai merupakan pusat perhatian.
  5. Kedua individu yang terlibat dalam wawancara itu berkehendak untuk mencoba menemukan pemecahan terhadap kesulitan yang dihadapi oleh orang yang diwawancarai.
Tujuan Wawancara Penyuluhan
Terdapat berbagai tujuan atau latar belakang diadakannya wawancara penyuluhan. Oleh karena pertemuan dalam wawancara penyuluhan itu bersifat sangat individual, tujuan yang hendak dicapainyapun menjadi sangat individual pula. Setiap penyuluh dan klien dapat menentukan tujuan yang hendak dicapai dalam wawancara yang hendak dilakukannya. Tujuan wawancara tersebut dapat berupa:
  • Menciptakan hubungan baik
  • Meredakan ketegangan
  • Menyediakan informasi
  • Mendorong ke arah pemahaman diri
  • Mendorong ke arah penyusunan rencana yang konstruktif

Selasa, 24 Januari 2012

Sasaran Evaluasi Kurikulum

Berikut ini adalah daftar sasaran evaluasi kurikulum, antara lain:
  • Tujuan pendidikan, baik tujuan kurikuler maupun tujuan pembelajaran. Penilaian tentang tujuan-tujuan itu ditinjau dari segi konsistensinya dengan tujuan institusional dan atau tujuan umum pendidikan nasional, ketetapan perumusannya, kesesuaian dengan taraf perkembangan dan kebutuhan siswa, kejelasan dan ketepatan struktur organisasinya, dan sebagainya.
  • Pengalaman belajar yang mencakup strategi pembelajaran, metode mengajar, dan hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan pembelajaran. Penilaian tentang hal ini terutama ditinjau dari segi kesesuaiannya dengan tujuan yang akan dicapai serta ketetapannya ditinjau dari segi pebelajar, konten, fasilitas, serta tempat dan waktu, dan sebagainya.
  • Bahan pelajaran (konten) yang diprogramkan untuk mencapai tujuan tertentu, yang pada umumnya dinyatakan dalam berbagai pokok bahasan. Penilaian terhadap konten tersebut terutama ditinjau dari pandangan yang terbaru, keluasan dan kedalamannya, ketepatan urutannya, kesesuaian dengan perkembangan/kebutuhan/pengalaman pebelajar, dan sebagainya.
  • Komponen kurikulum lainnya, seperti: waktu yang disediakan, fasilitas yang tersedia, sistem evaluasi, dan sebagainya. penilaian hal-hal tersebut terutama ditinjau dari segi efektivitas dukungannya dalam membelajarkan pebelajar untuk mencapai tujuan pendidikan.
  • Kemampuan guru dan personal lainnya yang terlibat didalam implementasi kurikulum, terutama yang berkaitan dengan proses pembelajaran. Penilaian ini terutama yang berhubungan dengan wawasan dan pemahaman pesan umum dari kurikulum, kemampuan mengelola program pembelajaran, dan sebagainya.
  • Pebelajar yang mengikuti program pendidikan, terutama dalam kaitannya dengan ketepatan analisis situasi seperti kesiapan mengikuti program pembelajaran sesuai dengan kurikulum yang bersangkutan.
  • Dukungan iklim profesional sebagai konteks pelaksanaan kurikulum.
  • Hasil dan dampak kurikulum yakni yang berkaitan dengan hasil belajar pebelajar serta dampaknya di lapangan.

Minggu, 01 Januari 2012

Langkah-langkah penyuluhan

Rogers (47) memperkenalkan langkah-langkah yang harus ditempuh dalam proses penyuluhan non-directive sebagai berikut:

  • Individu datang secara sukarela untuk meminta bantuan
Apabila seorang individu datang kepada penyuluh berdasarkan atas petunjuk dari orang lain, penyuluh harus menciptakan suatu situasi yang sangat bebas dan permissive, sehingga klien mendapat kesempatan untuk menentukan apakah dia akan melanjutkan permintaan bantuan kepada penyuluh itu atau tidak.

  • Menentukan situasi penyuluhan
Dalam menentukan situasi ini, klien didorong untuk menerima tanggung jawab untuk melaksanakan pemecahan masalah yang sedang dihadapinya. Penyerahan tanggung jawab ini hanya dapat dilakukan apabila penyuluh mempunyai keyakinan tentang kemampuan individu untuk menolong dirinya sendiri, setelah Ia melepaskan diri dari kekuatan-kekuatan yang mengekang dorongan-dorongannya yang alamiah ke arah penyesuaian diri, kedewasaan dan kebebasan.

  • Penyuluh mendorong klien untuk menyatakan perasaannya secara bebas tentang masalah yang dihadapinya
Dengan memperlihatkan sikap bersahabat, ramah dan reseptif, seorang penyuluh memungkinkan kliennya untuk menyatakan perasaannya mengenai masalah yang dihadapinya, kemarahannya, ketertarikannya, kesalahan-kesalahannya dan ketidak-mampuannya untuk membuat keputusan. Dengan demikian, kliennya akan merasakan pula meredanya ketegangan dan tekanan batin yang diderita sebelumnya.

  • penyuluh menerima, mengenal, dan mencerminkan perasaan klien yang bersifat negatif
Dengan memberikan respon kepada perasaan-perasaan yang mendasari kata-kata klien, penyuluh membantunya dengan tidak langsung, untuk memahami dan menerima perasaan negatif tersebut.

  • Pernyataan yang meluap tentang perasaan yang negatif itu diikuti dengan pernyataan yang lemah dan bersifat percobaan tentang perasaan yang positif
  • Penyuluh menerima, mengenal dan mencerminkan perasaan positif
  • Saat pencurahan perasaan itu diikuti oleh perkembangan yang berangsur-angsur tentang wawasan klien mengenai dirinya
Klien memahami dan menerima masalahnya tatkala dia mulai memahami dan menerima dirinya sendiri

  • Apabila klien telah mengenal dan menerima sikap serta keinginan yang sesungguhnya secara emosional dan apabila dia telah sampai kepada pemahaman yang lebih jelas tentang sebab-sebab dari tingkah lakunya dan memperoleh tanggapan yang segar tentang situasi kehidupannya, mulailah dia membayangkan suatu keputusan yang akan dan harus diambilnya dan membayang pulalah rangkaian kegiatan yang dapat dilakukannya sesuai dengan keputusan itu.
  • Klien mencoba menjelmakan wawasannya dalam tingkah laku
  • Pertumbuhan selanjutnya berlangsung bersama-sama dengan diperolehnya wawasan klien yang lebih jauh tentang dirinya
  • Terjelmalah tingkah laku positif yang terintegrasi dan bertambah terus
  • Klien merasakan berkurangnya kebutuhan akan bantuan dan merasa bahwa penyuluhan harus diakhiri dan menghentikan pertalian penyuluhan tersebut

Sabtu, 24 Desember 2011

Pemodelan (Modeling)

Dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang bisa ditiru oleh siswanya, misalnya guru memodelkan langkah-langkah cara menggunakan neraca O'haus dengan demonstrasi sebelum siswanya melakukan sesuatu dengan tugas tertentu.

Dalam pembelajaran kontekstual, guru bukan satu-satunya model. Pemodelan dapat pula dirancang dengan melibatkan siswa. Seorang bisa ditunjuk untuk memodelkan sesuatu berdasarkan pengalaman yang diketahuinya. Model dapat juga didatangkan dari luar yang ahli dibidangnya, misalnya mendatangkan seorang perawat untuk memodelkan cara menggunakan termometer untuk mengukur suhu tubuh pasiennya.

Artikel ini bersumber dari buku karangan Trianto, S. pd, M. pd (2007) dengan judul Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik.

Minggu, 18 Desember 2011

Pendekatan Wawancara - Wawancara Dikuasai Klien

Pendekatan ini memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada klien untuk menentukan arah wawancara. Hasil wawancara jenis ini diciptakan oleh klien sendiri. Penyuluh hanya menjadi pendengar dengan penuh minat, simpatik, sebagai pemantul dari gagasan dan perasaan klien. Pendekatan ini disebut juga dengan istilah non-directive. Oendekatan ini didasarkan atas keyakinan bahwa klien memiliki sumber-sumber untuk memecahkan masalahnya sendiri. pendekatan ini menciptakan iklim yang sangat bersahabat dan saling menerima (perhatikan pendekatan non-directive counseling). dalam iklim semacam ini, klien dapat menjelaskan tentang perasaannya sendiri, belajar untuk memahami reaksinya dan menerima keadaan sendiri. Akhirnya dia akan dapat mulai mengenal tanggapannya tentang dirinya sendiri dan terhadap lingkunyannya.

Pendekatan ini akan sangat berguna dalam keadaan:
  • Klien menderita ketegangan batin yang kuat.
  • Klien menanggapi hambatan emosional yang tidak memungkinkannya untuk melakukan analisa rasional.
  • Penyuluh benar-benar memahami dan memiliki keterampilan untuk menggunakan pendekatan ini.
  • Pemecahan masalah menuntut tanggung jawab penuh dari pihak klien untuk menentukan keputusan dan kegiatannya.
  • Sebab-sebab yang memungkinkan munculnya kesulitan tampak samar dan ruwet.
 Kelemahan dari penggunaan pendekatan ini atau dengan kata lain, pendekatan ini tidak tepat digunakan apabila:

  • Waktu yang tersedia sangat terbatas dan banyak klien yang harus mendapatkan pelayanan.
  • Penyuluh tidak mendapat latihan yang cukup dalam bidang psikologi.
  • Kesulitan yang dihadapi tidak memperlihatkan ketegangan dan tekanan emosi yang kuat.
  • Masalah yang dihadapi menuntut informasi yang lebih lanjut dari klien atau menuntut analisa objektif dari pihak penyuluh. Rochman (1978:86-87)

Sabtu, 10 Desember 2011

Pendekatan Kerja Sama dalam Wawancara

Pendekatan ini mulai dikenal dan digunakan dalam wawancara oleh calon-calon penyuluh yang sedang melakukan latihan, dimana mereka diharuskan untuk mampu melakukan berbagai pendekatan dalam kesempatan yang sangat terbatas. Dari pengalaman latihan tersebut ditemukan bahwa ternyata dalam penggunaan satu jenis pendekatan secara penuh dan patuh berdampak pada pengurangan fleksibilitas kerja.

Pendekatan ini dicipkan berdasarkan gagasan seperti berikut (Rochman Natawidjaja, 1978:88-89):
  1. Wawancara menyediakan kesempatan dan tanggung jawab bersama untuk usaha meredakan ketegangan, diagnosa, perencanaan dan pelaksanaannya. Derajat partisipasi kedua belah pihak akan berbeda sesuai dengan pertimbangan individual.
  2. Kedua belah pihak berusaha sepenuhnya dan mempunyai tanggung jawab penuh tentang penyelesaian wawancara.
  3. Kedua belah pihak memberikan sumbangan masing-masing dalam pemahaman tujuan wawancara dan peranan mereka masing-masing.
  4. Kedua belah pihak harus mempergunakan prinsip-prinsip belajar supaya hasil wawancara itu benar-benar berguna.
  5. Kedua belah pihak mengakui hak dan kewajiban klien untuk membuat dan melaksanakan keputusan dan rencana yang disusunnya.

Sabtu, 12 November 2011

Perbedaan Mengajar dengan Penyuluhan

Dibawah ini dikemukakan perbedaan antara kegiatan mengajar dan penyuluhan seperti yang dikemukakan oleh Mortensen dan Schmuller (35,325-6):

  • Hakekat masalah yang dihadapi
Kegiatan mengajar merupakan pernyataan kehendak masyarakat yang dicurahkan dalam program pendidikan bagi semua murid. Pengajaran, disamping melibatkan diri dalam tujuan yang sama, juga diberi pelayanan kepada setiap murid dalam hal perkembangan pribadinya. Kegiatan mengajar ditujukan untuk menyampaikan informasi dan keterampilan sesuai yang tertera dalam kurikulum yang telah ditentukan terlebih dahulu oleh sebuah lembaga pendidikan. Sedangkan dalam penyuluhan, klien merupakan tokoh yang utama dalam menentukan hal-hal yang akan dipertimbangkan dalam usaha itu.


  • Pemberian kekuasaan
Guru dalam kelas memperlihatkan satu kekuasaan, meskipun peranannya adalah membimbing. Sebaliknya, penyulih tidak pernah memberikan teguran atau persetujuan dengan tegas terhadap suatu perbuatan. Penyuluh bukanlah seorang tokoh pengemban kekuasaan, meskipun demikian kekuasaan itu mungkin timbul dari keputusan kelompok yang menghendakinya, keputusan kelompok yang diilhami oleh suasana demokratis. Guru dituntut untuk menilai dan melaporkan kemajuan murid berdasarkan suatu patokan yang telah ditentukan terlebih dahulu. Penyuluh membantu seseorang untuk menilai dirinya sendiri berdasarkan prinsip yang tidak mengikat.


  • Peranan kelompok
Kegiatan mengajar biasanya merupakan kegiatan kelompok. Penyuluhan kadang-kadang menggarap individu-individu yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku dalam suatu kelompok.


  • Cara bertindak
Kegiatan mengajar merupakan tugas yang telah direncanakan berdasarkan kurikulum yang telah ditentukan terlebih dahulu dan berdasarkan cara bertindak yang diinginkan. Penyuluhan, disamping  merupakan proses yang disusun, tergantung pula kepada kemajuan dan kebutuhan klien dalam arah yang ditentukannya sendiri.

Selasa, 01 November 2011

Menyusun Program penyuluhan

Dalam menyusun program penyuluhan, demikian pula dalam bimbingan, tiap sekolah mempunyai cara masing-masing sesuai dengan keadaan dan kebutuhan yang dirasakan oleh sekolah yang bersangkutan. Meskipun demikian, dibawah ini dikemukakan beberapa faktor yang perlu diperhatikan oleh sekolah yang hendak menyusun suatu program penyuluhan.

  1. Menyediakan sejumlah penyuluh yang berwenang dan dilatih dengan baik. Hal ini merupakan kewajiban petugas tata usaha, terutama dalam memilih tenaga-tenaga yang benar-benar dapat dipertanggungjawabkan. penyusunan selanjutnya seperti kelancaran pelaksanaan penyuluhan, pembagian tugas diantara penyuluh dan lain sebagainya akan sangat bergantung kepada sejumlah penyuluh yang telah disediakan.
  2. Jumlah klien yang diberikan kepada setiap penyuluh janganlah terlalu besar/banyak. Pada umumnya makin sedikit jumlah klien yang dipertanggung-jawabkan kepada seorang penyuluh, maka semakin baik pula kinerjanya.
  3. Apabila mungkin, seorang klien hendaknya tetap dilayani oleh penyuluh yang sama.
  4. Sebauknya semua penyuluh sewaktu-waktu mendapat kesempatan untuk mengajar di kelas.
  5. Setiap penyuluh hendaknya diberi banyak waktu dan tempat kerja serta perlengkapan secukupnya, disamping kebebasan untuk melakukan kegiatan sesuai dengan tugasnya dan dapat berhubungan langsung dengan tata usaha, guru-guru, dan orang tua murid yang dilayaninya.
  6. Sangatlah penting artinya bagi penyuluh untuk dapat bertemu dan berdiskusi dengan orang tua murid.
  7. Penyuluh harus selalu mendapat kesempatan untuk berhubungan dengan guru-guru dalam sekolah itu. Demikian pentingnya hal ini, sehingga harus dikemukakan secara terperinci dalam program penyuluhan.
  8. Kontak antara sekolah dengan masyarakat luas harus dibina dengan baik untuk memungkinkan dipergunakannya sumber-sumber di luar sekolah dalam pelaksanaan penyuluhan.
  9. Program penyuluhan harus dikenal dan dipahami oleh selurug staf persekolahan dan sekolah yang bersangkutan.
  10. Harus direncanakan dan dilaksanakan latihan tambahan (in-service training) untuk semua anggota dan staf persekolahan dalam hal pelaksanaan penyuluhan sesuai dengan tugasnya masing-masing.
  11. Setiap penyuluh harus diberi pelayanan dalam mengerjakan tugas-tugas sederhana, seperti mengetik, menyusun kartu-kartu, dsb. Apabila pekerjaan itu dikerjakan oleh penyuluh itu sendiri, maka pekerjaan yang benar-benar membutuhkan tenaga dan pikirannya akan terbengkalai.

Kamis, 20 Oktober 2011

Langkah Mengajarkan Strategi Belajar

Berikut ini adalah daftar tentang bagaimana cara-cara mengajarkan strategi belajar kepada siswa (Triato 2007:87-88):
  1. Memberi tahu siswa bahwa mereka akan diajarkan suatu strategi belajar, agar perhatian siswa terfokus;
  2. Menunjukkan hubungan positif penggunaan strategi belajar terhadap prestasi belajar dan memberitahukan perlunya kerja pikiran ekstra untuk membuahkan prestasi yang tinggi;
  3. Menjelaskan dan memeragakan strategi yang diajarkan;
  4. Menjelaskan kapan dan mengapa suatu strategi belajar digunakan;
  5. Memberikan penguatan terhadap siswa yang memakai strategi belajar;
  6. Memberikan praktek yang beragam dalam pemakaian strategi belajar;
  7. Memberikan umpan balik saat menguji materi dengan strategi belajar tertentu; dan
  8. Mengevaluasi penggunaan strategi belajar, dan mendorong siswa untuk melakukan evaluasi mandiri.

Diambil dari buku karangan Trianto, S. Pd, M. Pd dalam bukunya yang berjudul Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik (Konsep, Landasan Teoritis-Praktis dan Implementasinya).

Rabu, 05 Oktober 2011

Pendekatan Wawancara - Wawancara Dikuasai oleh Penyuluh

Mochtar Natawidjaja (1978, 85-86) dalam bukunya yang berjudul Penyuluhan di Sekolah menuliskan teknik-teknik pendekatan dalam wawancara. Wawancara dikuasai penyuluk atau "counselor-directed interviewing" dikatakan tepat penggunaannya apabila:
  1. Klien mengalami keadaan putus asa dan memerlukan seseorang yang sanggup membantunya sebelum dia mempergunakan kemampuannya sendiri.
  2. Klien tidak mampu untuk memulai pembicaraan dan membutuhkan seseorang untuk membuka pembicaraan itu.
  3. Situasi permulaan wawancara memaksa penyuluh untuk mengambil tanggung jawab yang besar, yang kemudian dilanjutkan dengan prosedur wawancara yang sesuai dengan situasi selanjutnya.
  4. Klien dapat dan mau menerima hasil wawancara dan tidak akan kehilangan kemampuannya untuk mengarahkan diri dalam proses wawancara tersebut.
Ciri-ciri utama dari pendekatan ini adalah:
  1. Penyuluh mengambil sebagian besar tanggung jawab untuk memecahkan masalah klien.
  2. Klien menerima pertalian atau ikatan semacam ini.
  3. Penyuluh mengumpulkan informasi tentang diri klien
  4. Klien menyajikan informasi, melakukan tes, mengisi daftar isian yang diberikan oleh penyuluh.
  5. Penyuluh menelaah dan menafsirkan data yang diperolehnya.
  6. Penyuluh dan klien menelaah informasi, menganalisa sebab-sebab daripada kesulitan yang dihadapi dan kemudian merumuskan cara pemecahannya,
  7. Klien membuat keputusan mengenai rencana untuk masa yang akan datang dan mulai melaksanakan keputusannya tersebut.
  8. Penyuluh mencatat hasil wawancara tersebut dan melakukan follow-up tentang kegiatan klien.

Rabu, 28 September 2011

Tujuan Strategi Belajar

Mengajar, pada dasarnya mencakup mengajari siswa tentang belajar, bagaimana mengingat, bagaimana berfikir, dan bagaimana memotivasi diri sendiri (Weistein and Meyer as cited in Nur, 2000). Secara lebih detail, Weistein dan Meyer dalam Nur (2000;6 mengatakan:

Merupakan hal yang aneh apabila kita mengharapkan siswa belajar namun jarang mengajarkan mereka tentang belajar. Kita mengharapkan siswa untuk memecahkan masalah, namun tidak mengajarkan mereka tentang pemecahan masalah. Dan sama halnya, kita kadang-kadang meminta siswa memngingat sejumlah besar bahan ajar, namun jarang mengajarkan mereka tentang seni menghafal. Sekarang tibalah waktunya kita membenahi kelemahan tersebut, tibalah waktunya kita mengembangkan ilmu terapan tentang belajar dan pemecahan masalah dan memori. Kita perlu mengembangkan prinsip-prinsip umum tentang bagaimana belajar, bagaimana mengingat, bagaimana memecahkan masalah, dan kemudian mengemasnya dalam bentuk pelajaran yang siap diterapkan, dan kemudian memasukkan metode-metode ini dalam kurikulum.

Menurut Arends (1997"245), pembelajar mandiri (self regulated learner) adalah pembelajar yang dapat melakukan hal penting dan memiliki karakteristik, antara lain:

  1. Mendiagnosis secara tepat suatu situasi pembelajaran tertentu;
  2. Memiliki pengetahuan strategi-strategi belajar efektif, bagaimana serta kapan menggunakannya;
  3. Dapat memotivasi diri sendiri tidak hanya karena nilai atau motivator eksternal;
  4. Mampu tetap tekun dalam tugas sehingga tugas itu terselesaikan; dan
  5. Belajar secara efektif dan memiliki motivasi abadi untuk belajar.